Breaking News
Loading...
Tuesday, 3 June 2014

Info Post

Di Indonesia, saat pertama kita mengenal dunia pendidikan kita diajarkan untuk bernyanyi, mengenal huruf dan angka, serta menggambar. Sekolah menyediakan berbagai alat-alat mewarnai, menulis hingga perlatan musik. Semuanya penuh dengan warna-warna yang cerah yang sangat menarik perhatian memandangnya. Dan ada satu hal yang mungkin kita tidak sadari semasa kecil, saat guru menyuruh kita untuk membuat sebuah gambar, mungkin semua kita yang pernah mengenyam pendidikan di Indonesia semasa kecil memiliki gambar yang sama. Sebut saja jika disuruh menggambar pemandangan alam, ada dua gunung, matahari di tengah, ada bintang padahal hari di siang hari, ada sawah dan jalan yang membentang di tengah serta tak pernah lupa yaitu pohon kelapa. Mungkin anda akan tersenyum jika mengingat hal ini kembali. Saya pun juga begitu, setiap menggambar pasti membuat dua gunung kembar beserta pelengkapnya. Kadang ditambah dengan burung dan awan di atas gunung.

Kalau kita disuruh menggambar seekor itik, ada sesuatu yang unik di sini yang mungkin kita tidak menyadarinya. Jika orang luar melihat gambar itik anak-anak Indonesia, mereka akan kaget kenapa itik Indonesia selalu menghadap ke arah kiri? Kenapa tidak menghadap ke arah kanan. Mungkin sampai sekarang masih melakukan hal yang sama di beberapa sekolah. Atau kenapa itiknya tidak sedang minum air.

Apa yang keliru dalam hal ini?
Apakah sistem pendidikan kita yang dari dulu lebih banyak mengajarkan dan mendikte anak-anak sekolah untuk melakukan A atau melakukan B atau pun Z. Sebut saja menggambar gunung kembar, di SD kita diajarkan oleh guru membuat gambar gunung kembar beserta pelengkapnya, dan itu pun harus persis sama untuk memperoleh nilai delapan. Begitu juga gambar itik, kita diajarkan membuat gambar itik dimulai dari angka dua, sehingga gambar itik selalu menghadap ke kiri. Kita hanya diajarkan dan didikte untuk meniru apa yang diajarkan guru dan selalu berpikiran bahwa semua aturan guru adalah benar dan harus ditiru. Jika tidak maka poin atau nilai pun akan dikurangi. Hal ini menjadikan suasana yang tidak kreatif, hanya mengikuti dan berharap untuk mendapatkan poin atau nilai dibandingkan mendapatkan ilmu.

Saat saya membuka tempat les kecil di rumah, saya pun kaget saat mereka hafal sebuah bacaan berikut koma dan titiknya. Dan saat ditanya dengan pertanyaan yang sedikit berbeda dibandingkan buku, mereka tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut. Karena mereka mengikuti dan menghafal, bukan memikirkan dan menganalisis apa yang mereka baca dan pelajari. Tulisan ini bukan berarti menyalahkan atau menyesalkan guru, namun memperlihatkan ada yang salah dalam sistem pendidikan yang lebih cenderung mengajarkan anak-anak sekolah untuk mengikuti bukan untuk berpikir kreatif dan inovatif. Sehingga mereka bisa berkreasi menciptakan sesuatu yang baru. Mungkin saat ini tidak semua sekolah yang masih melakukan hal yang sama, terutama sekolah swasta yang memiliki visi dan misi yang berbeda dengan sekolah negeri.

Selanjutnya, kenapa kita diajarkan semua materi di sekolah baik ilmu alam, ilmu pasti maupun ilmu sosial. Dalam masa belajar yang sama, semenjak usia 6 tahun, kita tidak diberikan kesempatan untuk fokus pada satu bidang saja. Tapi kita diharuskan untuk menguasai semua bidang ilmu, sehingga memaksa kita untuk mempelajarinya dan bahkan membuat kita bingung dan muak dengan apa yang kita pelajari. Baru pada usia 15 tahun lebih kita diberi kesempatan untuk fokus kepada satu bidang ilmu. Mungkin alasan awalnya bagus, bahwa kita akan mampu menguasai semua ilmu pengetahuan dan menjadi bekal kita kelak. Namun hal ini membuat kita jenuh dan bosan dalam belajar, sehingga banyak siswa yang bolos dan bohong dalam belajar.

Jika kita bandingkan dengan pendidikan diluar negeri, mereka diberikan kebebasan untuk fokus pada bidang minat mereka, sehingga itulah banyak lahir manusia-manusia yang cerdas dan di usia muda sudah menjadi profesor dan menciptakan suatu hal yang baru. Mereka diberi kebebasan untuk mengembangkan ilmu mereka semaksimal mungkin. Di usia yang kurang dari 20 tahun, Mark Zuckerberg mampu menciptakan sebuah inovasi media sosial baru yang hingga saat ini digunakan oleh seluruh umat manusia di dunia yaitu Facebook. Richard Branson yang diberi kebebasan untuk memilih pendidikan atau bisnis. Di usia nya 16 tahun saat masih bersekolah, Richard sudah mampu menghasilkan majalah, yang berjudul Student. Hingga saat ini dia terkenal dengan berbagai bidang usaha bisnis yang dia geluti dengan label The Virgin. Ini semua karena mereka diberi kebebasan untuk memfokuskan diri mereka mempelajari apa yang mereka sukai, dan bahkan mereka tidak didoktrin atau tidak didikte dalam hal pendidikan. Mereka mampu memberikan ide-ide yang kreatif dan inovatif hingga mereka mampu menghasilkan  sesuatu yang luar biasa dan sangat berguna bagi orang lain.

Bagaimana dengan kita yang sudah terlanjur mengenyam pendidikan yang selalu mendikte dan menyuruh kita untuk meniru bukan untuk merobah atau mencipta sesuatu yang lebih baik. Saat saya mengajar mahasiswa di kampus pun mereka lebih cenderung untuk mengikuti pola apa yang saya ajarkan, mereka menganggap semua yang saya ajarkan adalah benar. Mereka tidak meyakini kebenaran jika disuruh untuk mencari informasi dan ilmu terkait pada media lainnya. Mereka hanya percaya dengan apa yang saya sampaikan. Sekali lagi mungkin ini masih banyak terjadi di daerah-daerah selain kampus-kampus di kota-kota besar. Karena dari semasa sekolah dasar, ilmu selalu diberikan layaknya anak bayi yang makan disuapi. Jika tidak ada suapan nasi ke mulut bayi mungil maka dia tidak akan makan dan menangis jika lapar atau diam jika kenyang. Bayi tidak mampu menyuap nasi sendiri walaupun dalam keadaan sangat lapar.

Semua yang keliru dalam hal ini memang sulit untuk dirubah, hal yang sudah terbiasa bahkan sejak ratusan tahun lalu. Jadi kita sebagai pengajar atau kita sebagai pelajar wajib untuk saling mengingatkan dan memperbaiki atau merobah hal-hal yang sudah tidak tepat lagi digunakan untuk diganti dengan sesuatu yang baru yang lebih inovatif dan cerdas agar terlahir manusia-manusia yang luar biasa dengan semua kreatifitas ciptaannya yang bermanfaat bagi khalayak ramai.

Kebiasaan ini akan berlanjut di berbagai bidang lainnya, sebut saja dalam pemilihan jenis pekerjaan. Sebagian daerah lebih cenderung untuk bekerja sebagai pegawai pemerintah, sebagian lagi keluar negeri sebagai pembantu, jarang yang ada untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri dengan berbagai alasan yang menyanggahnya. Karena di mindset kita yang tidak pernah tertanam untuk memiliki daya cipta dan percaya diri dalam melakukan sebuah inovasi yang luar biasa. Kita tidak diajarkan untuk bagaimana menghadapi resiko, namun kita diajarkan untuk menghindari resiko, sehingga kita tidak berani untuk memulainya. Banyak orang Indonesia sebagai pengikut, sebagai pegawai, sebagai pembantu dan bahkan budak dari majikannya yang selalu mencari perhatian layaknya penjilat mengharapkan kesenangan dari majikannya.
Akan kah kita terus bertahan dalam keadaan seperti ini?

by MEYF
^_^


0 Please Leave Comments here: