Breaking News
Loading...
Wednesday, 9 July 2014

Info Post

Saya sedikit sharing suatu pengalaman yang mungkin Anda pasti pernah menghadapinya. Pernahkan Anda berpikir bahwa orang lain adalah lebih baik dari diri sendri, atau pendapat orang lain lebih utama daripada pendapat sendiri, atau Anda bimbang dan ragu-ragu dalam memutuskan suatu hal? Saya yakin pasti pernah, walaupun hanya satu kali. Kita hidup sosial yang selalu berinteraksi dengan orang lain dan bahkan menjadi pusat perhatian orang lain baik dengan sepengetahuan kita atau pun tidak.

Saat Anda bermutasi dari kota kecil ke kota besar, kehidupan yang dirasakan sangat berbeda. Di kota besar sangat banyak yang kita jumpai baik dari segi lingkungan sosial dengan manusia hingga tekhnologi yang menggiurkan. Siapa yang tidak akan tergoda dengan kehidupan glamour dan serba canggih. Namun masalahnya adalah seberapa kuat kita untuk mampu bertahan dengan keadaan yang tidak memungkinkan semuanya kita ikuti.

Seorang anak diizinkan orang tua untuk meraih pendidikan tinggi di kota besar, sehingga dia haruslah bertanggungjawab dan melaksanakan dengan sebaik-baiknya amanah yang diberikan orangtuanya. Maka si anak akan menghadapi kehidupan baru seperti hidup jauh dari orang tua, hidup mandiri di lingkungan yang baru, beradaptasi dan bersosialisasi dengan kondisi yang baru bahkan tidak sesuai dengan apa yang pernah dijalani sebelumnya. Berbagai bentuk godaan yang menggiurkan yang dengan mudahnya mempengaruhi gaya hidup yang biasa dijalani. Beruntung jika si anak mampu memilih dan menyaring antara pengaruh positif dan pengaruh negatif, sangat disayangkan jika si anak mengambil semua pengaruh tersebut hingga memberikan efek negatif kepada si anak, keluarga bahkan menjadikan dia gagal menjalankan amanah yang diberikan kepadanya.

Jika si anak memiliki tujuan dan tanggung jawab yang besar akan amanah orangtuanya untuk bersekolah di kota besar, tidak akan mudah terpengaruh akan hal-hal negatif, atau pun kehidupan yang serba elit, bahkan ia mampu menahan nafsunya untuk memiliki barang-barang mahal atau pun hal-hal yang tidak selayaknya untuk dimiliki saat ini. Memang pada usia tersebut adalah masa mencari jati diri, gengsi dan gaya hidup yang ideal yang mereka pandang dari segi materi. Namun mahasiswa yang beriman mampu melihat keadaan dan memutuskan hal yang layak dan tepat untuk dijalani.

Saat seorang atasan diberikan kepercayaan untuk mengatur dan menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai atasan dan karyawan suatu perusahaan. Seorang atasan yang tegas dan percaya diri tidak akan terpengaruh akan hasutan bawahan yang memberikan komentar-komentar negatif terhadap rekan kerjanya. Dia tidak akan terpengaruh untuk memperoleh materi dengan cara tidak benar yang seharusnya bukan menjadi haknya. Seorang atasan yang bersikap bijak pasti akan mampu memilih dan menetapkan mana yang baik dan mana yang buruk, bahkan dia mampu memberikan pengaruh kepada orang lain agar melakukan pekerjaan dengan jujur, hebat dan bertanggungjawab.

Seorang sahabat yang baik dan memiliki kepercayaan terhadap saudaranya tidak akan mudah terpengaruh akan hasutan orang lain yang memberikan komentar negatif kepada saudaranya. Karena dia memiliki keyakinan dan kemampuan untuk memilih dan membedakan mana yang positif dan negatif. Hal lain, seperti seorang karyawan yang selalu cemas akan pandangan orang lain, setiap tindakan yang dia kerjakan selalu meminta pendapat orang lain yang bahkan orang tersebut belum tentu tahu apa kebutuhan dan keinginannya, hanya karena takut digosipin atau diremehkan orang lain sehingga tidak menghargai diri sendiri sebagai orang yang dilahirkan hebat.

Banyak upaya yang dapat kita lakukan untuk melepaskan diri dari pengaruh orang lain atau pengaruh lingkungan. Pertama adalah percaya diri, sikap ini menunjukkan bahwa kita mampu dan sanggup melakukan segala sesuatu dengan kekuatan yang kita miliki. Jika kita merasa kita mampu untuk melakukan tujuan utama yang harus kita raih, sehingga pengaruh luar negatif yang akan mengacaukan tujuan akan sangat sulit untuk mempengaruhi kehidupan dan pandangan kita. Kedua kenali diri sendiri, jika kita sudah tahu dan kenal akan siapa kita, apa tujuan kita, bagaimana kemampuan dan potensi diri kita sehingga kita mampu untuk memilih pengaruh mana yang layak untuk diterima dan ditolak. Melalui buku-buku atau pun video motivasi dan inspiratif pun kita mampu menggali dan mengenal potensi diri kita.

Ketiga memandang penting diri sendiri berarti kita selalu memberikan perhatian penuh kepada diri kita sendiri untuk bertindak, bertutur kata, berperilaku positif sehingga akan muncul pandangan positif.  Sehingga pendapat orang lain yang berhubungan dengan kebutuhan kita dan pengaruh orang lain adalah pilihan kedua. Memandang penting diri sendiri bukan berarti kita egois, namun memandang diri kita sebagai seorang yang mampu menyebarkan kebaikan bagi diri sendiri dan lingkungan. Keempat melatih diri untuk menjadi seorang pemimpin/manajer. Bukan berarti kita harus melamar kerja di sebuah perusahaan sebagai manajer, namun dalam kehidupan sehari-hari kita harus mampu mengatur waktu, mengatur aktifitas, keuangan, bahkan hal sepele lainnya dan yang paling utama adalah harus mampu mengambil sebuah keputusan yang  tidak merugikan diri sendiri dan orang lain secara bersamaan.


Kelima menghargai lingkungan luar sebagai bentuk pembelajaran agar kita mampu mengenali potensi diri kita untuk bergabung dengan lingkungan tersebut. Sebenarnya melepaskan diri dari pengaruh orang lain dan lingkungan sangatlah sulit untuk dihilangkan, karena karakter dan lingkungan sosial yang beragam. Namun tergantung pada diri sendiri bagaimana memandang, menyaring dan memilih pengaruh yang positif dan membuang pengaruh negatif yang tidak bermanfaat yang hanya membuang kesempatan kita untuk menggali potensi yang kita miliki agar menjadi orang hebat.

Apakah kita bisa melakukannya??? Jawabannya BISA!!!
Namun semua keputusan ada ditangan kita. 

by MEYF
^_^

0 Please Leave Comments here: