Wisata Alam - Danau di Sumatera Barat

Thursday, March 15, 2012 Add Comment
Sumatera Barat dikenal sebagai penduduk suku Minang. Penduduk yang ramah dan berpedoman pada "Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah. Orang Minang hidup diatur dengan adat dan adat tersebut bersumberkan pada Alquran. Sehingga penduduk Minang adalah orang muslim. Sehingga dahulunya, masyarakat Minang berpedoman bahwa yang bukan Muslim, berarti bukan orang Minang.

Alam takambang jadi guru, banyak hal yang dapat diambil pelajaran dan ilmu dari kehidupan alam, apalagi alam Sumatera Barat yang sangat indah dengan tempat-tempat wisata yang tersebar dari hulu sampai hilir.
Sumatera Barat yang berada di daerah paling barat Indonesia, sebelah barat langsung berhubungan dengan Samudra Hindia. Sehingga memiliki banyak pantai terutama di daerah Padang dan Pariaman. 

Selain itu Sumatera Barat juga dikelilingi gunung-gunung yang masih aktif, tidak heran bahwa daerah ini terjadi gempa baik tektonik ataupun vulkanik. Akibatnya terbentuklah danau dan lembah.
Sumatera Barat memiliki empat danau nan indah, yaitu Danau Maninjau, Danau Singkarak, Danau Di Ateh - Di Bawah, dan Danau Talang.

1. Danau Singkarak
Merupakan danau terbesar pertama di daerah Sumatera Barat dan kedua di pulau Sumatera. Danau ini terletak di dua kabupaten yaitu Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar. Luasnya mencapai 129.6 km persegi dengan kedalaman  268 meter. Danau ini merupakan hulu Batang Ombilin. Sebagian air dialirkan melalui terowongan menembus Bukit Barisan ke Batang Anai untuk mtnggerakkan generator PLTA Singkarak.Danau Singkarak memiliki jarak 48 km dari kota Bukittinggi. Dan 75 km dari kota Padang melalui kota Solok serta 100 km dari kota Padang melalui Padang Panjang.

Danau Singkarak terkenal dengan ikan bilihnya. Ikan bilih merupakan spesies ikan yang diperkirakan hanya hidup di danau Singkarak dan menjadi salah satu khas makanan dari daerah ini. Uniknya ikan ini tidak dapat bertahan hidup jika dipindahkan dari danau Singkarak.





2. Danau Maninjau

Danau Maninjau

Merupakan danau terbesar kedua di Sumatera Barat. Terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Lokasinya sekitar 140 km sebelah utara kota Padang, 36 km dari kota Bukittinggi dan 27 km dari Lubuk Basung (ibukota Kabupaten Agam). 









Puncak Lawang


Danau Maninjau merupakan danau vulkanik yang terbentuk karena letusan gunung Sitinjau (Legenda http://mellyeyf.blogspot.com/2012/03/asal-usul-danau-maninjau.html) dengan ketinggian 461,50 m di atas permukaan laut dan luas sekitar 99,5 km persegi. Salah satu bagian danau terdapat PLTA Maninjau. 
Puncak tertinggi danau Maninjau dikenal dengan Puncak Lawang.

Kelok -44

Danau Maninjau merupakan sumber air untuk sungai bernama Batang Sri Antokan. Di salah satu bagian danau yang merupakan hulu dari Batang Sri Antokan terdapat PLTA Maninjau. Puncak tertinggi diperbukitan sekitar Danau Maninjau dikenal dengan nama Puncak Lawang. Untuk bisa mencapai Danau Maninjau jika dari arah Bukittinggi maka akan melewati jalan berkelok-kelok yang dikenal dengan Kelok 44 sepanjang kurang lebih 10 km mulai dari Ambun Pagi sampai ke Maninjau.


3. Danau Diateh dan Danau Dibawah
Danau Dibawah
Danau Diateh
Danau ini dikenal dengan danau kembar karena ada dua danau yang letaknya sangat dekat sekitar 300 meter. Letak Danau tektonik ini di Kabupaten Solok. Namun uniknya Danau yang berada lebih tinggi dari permukaan laut disebut Danau Dibawah dan danau yang berada di lebih dekat dengan permukaan laut disebut Danau Diatas. Luas Danau Diatas sekitar 17,20 meter persegi dengan ketinggian 1,6 km di atas permukaan laut sedangkan Danau Dibawah dengan luas 16,90 meter persegi berada 866 meter di atas permukaan laut. 

4. Danau Talang
Danau Talang
Danau yang berada dekat gunung Talang Kabupaten Solok. Danau ini tidak terlalu terkenal karena lokasinya  berada dekat dengan Gunung Talang yang masih aktif. Sehingga kawasan danau ini menjadi kawasan terlarang bagi wisatawan. Danau ini berada 4,5 km dari Danau Kembar. 
Karena Danau Talang dekat dengan Gunung Talang, sehingga debu-debu vulkanik pun banyak menyelimuti daerah tersebut.
Asal terbentuk danaunya belum diketahui kemungkinan aktivitas vulkanik gunung Talang.

Sumber : Wikipedia.com dan penduduk setempat

Positif dari Film Slumdog Millionaire

Tuesday, March 13, 2012 Add Comment
Positif dari Film Slumdog Millionaire
Pernah nonton film india yang judulnya Slumdog Millionaire. Bagus banget kisahnya, bermula dari seorang laki-laki yang hidup dijalanan. Film ini meraih/pemenang Academy Awards.
Dalam film ini diceritakan bagaimana seorang Jamal Malik dengan saudara laki-lakinya salim hidup. Ibunya telah lama meninggal dibunuh saat dia masih kecil dan disaat adanya bentrok antara Muslim India dengan Hindu India.
Jamal dan saudaranya pernah diambil oleh genk jalanan yang mengasuh anak jalanan untuk mengemis, ngamen dan merampok. Genk ini sangat kejam, dia menganggap anak-anak sebagai mainan. Saat jamal melihat temannya dibius dan kedua matanya disiram minyak panas oleh genk tersebut, agar menambah penghasilan mengemisnya, dia juga disuruh untuk membawa Jamal adiknya. Akhirnya mereka kabur..

Dalam kisah ini, Jamal dan kakaknya terpisah. Jamal Malik mencari pekerjaan yang halal yaitu sebagai OB dan dia juga anak yang pintar. Sedangkan saudaranya bekerja sebagai orang suruhan dari kelompok genk jahat di India.

Jamal Malik suatu ketika diberi kesempatan mengikuti kuiz Who Want's To Be A Millionaire.
Dia berhasil memenangkan kuiz tersebut sampai pada akhir pertanyaan.
Dia seorang anak jalanan yang tidak pernah sekolah tetapi dapat menjawab semua pertanyaan tersebut, tentu hal itu membuat para penyelenggara heran dan curiga. Dia dituduh memasang Chip atau pun menyontek jawaban. Akhirnya dia ditangkap dan dianiaya oleh polisi.

Jamal Malik dapat menjawab pertanyaan tersebut karena semua pertanyaan pernah terekam di otaknya dan berhubungan dengan semua kejadian yang dialami dari masa kecilnya. Dia dapat mengingat dan menyusun dengan baik memori tersebut.

Saat kecil, dia pernah dikunci oleh kakaknya Salim di WC, karena dia telah menggagalkan salim untuk memperoleh uang sebagai penjaga WC. Saat itu juga idola Jamal, Amitta Batchan datang ke desanya. Akhirnya dengan nekad Jamal meloncat ke WC yang berisi kotoran demi tanda tangan idolanya tersebut. Kejadian ini membantu memberikan jawaban bagi Jamal saat mengikuti kuiz tsb.

Selanjutnya saat Jamal melihat ibunya dipukul dan dibunuh oleh segerombolan pemberontak, dia melihat Rama dengan senjata-senjata yang ada di punggungnya. Hal ini juga membantu Jamal menjawab pertanyaan kuiz yang menanyakan senjata apa yang ada di tubuh Rama.

Saat dia bertemu dengan temannya yang buta, dia memberikan uang dolar pada temannya itu sebagai hadiah. Lalu mereka bercerita mengenai gambar siapa di dalam mata uang kertas tsb. Hal ini juga membantu Jamal menjawab pertanyaan siapakah gambar yang ada pada mata uang 1 dollar.

Dari kisah ini menggambarkan bagaimana seorang anak jalanan tidak pernah dapat dipercaya. Mereka selalu dianggap bodoh karena tidak pernah sekolah. Walaupun si anak jalanan tersebut sudah berusaha untuk mencari kehidupan yang lebih baik

Asal Usul Danau Maninjau

Tuesday, March 13, 2012 Add Comment
Asal Usul Danau Maninjau
Danau Maninjau adalah danau yang terletak di Kabupaten Agam Sumatera Barat.Danau ini adalah danau vulkanik yang memiliki luas lebih kurang 99 km2 dan kedalaman mencapai 495 meter. Menurut tambo, pada mulanya Danau Maninjau adalah gunung berapi diberi nama gunung Tinjau yang dipuncaknya terdapat sebuah kawah yang luas. Tapi menurut mereka, karena ulah manusia, gunung tersebut meletus dan membentuk sebuah danau yang luas.
Gunung Tinjau yang puncaknya terdapat kawah yang luas dan dikaki-kakinya terdapat perkampungan dengan mata pencarian bertani. Apalagi dekat gunung yang memiliki tanah yang sangat subur. Salah satu perkampungan tinggallah sepuluh orang bersaudara, sembilan orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang bungsu. Anak pertama bernama Kukuban dan anak bungsu bernama Sani. Orang tua mereka sudah lama meninggal dan mereka dibimbing oleh mamak (paman) mereka yang bernama Datuk Limbatang.

Datuk Limbatang seorang mamak kampung yang memiliki seorang putra bernama Giran. Suatu ketika Datuk Limbatang kerumah Bujang Sambilan bersama istri dan anaknya Giran. Disanalah Giran dan Sani saling jatuh hati. Sejak itu mereka saling menjalin hubungan kasih tanpa sepengetahuan lainnya, karena mereka takut akan timbul fitnah. 

Saat musim panen tiba, penduduk kampung memperoleh hasil yang melimpah, sehingga mereka dan pemuka adat mengadakan acara gelanggang adu ketangkasan bermain silat. Disana ikutlah Kukuban dan Giran, mereka memperoleh kesempatan untuk saling adu silat. Giran menang dan Kukuban kalah karena bermain curang, sehingga menyebabkan kakinya patah tulang. Hal ini membuat dendam Kukuban terhadap Giran.

Beberapa bulan kemudian Sani dan Giran semakin yakin bahwa mereka ingin melanjutkan hubungan yang sah dan diakui agama dan masyarakat. Bermaksud datanglah Giran dan kedua orangtuanya ke rumah bujang nan sambilan untuk meminang Sani. Hal ini tentu membuat bujang nan sambilan sangat senang dan menyetujui hubungan ini. Namun, tiba-tiba datanglah Kukuban yang menolak mentah-mentah hubungan tersebut. Hal ini dipicu karena dendamnya terhadap Giran saat pertandingan. Akhirnya perdebatan pun terjadi, namun Datuk Limbatang yang bijaksana tidak dapat memaksakan kehendak tersebut kepada Bujang Sambilan.
Berhari-hari kedua pasangan itu berpikir namun tidak menemukan jalan keluarnya. Sehingga mereka memutuskan untuk bertemu di suatu tempat. Mereka berunding di tepi sungai, saat Sani beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba Sani jatuh dan sarungnya robek. Giran pun menolong Sani. Pada saat itu
tiba-tiba ada warga dan bujang nan sambilan memergoki mereka, dan menuduh mereka berbuat yang tidak pantas. Mereka melakukan pembelaan begitu juga dengan Datuk Limbatang, namun tidak berhasil. Akhirnya mereka dihukum dan dibuang ke kawah gunung Tinjau. 


Sebelum dibuang, mereka berdoa, "Ya Tuhan, Mohon dengar dan kabulkan doa kami, jika kami memang bersalah, hancurkanlah tubuh kami di dalam air kawah gunung yang panasini. Akan tetapi, jika kami tidak bersalah, letuskanlah gunung ini dan kutuk Bujang Sembilan menjadi ikan!"


Tiba-tiba Giran dan Sani melompat ke kawah dan beberapa saat kemudian gunung Tinjau pun bergetar dan meletus, semua orang tidak sempat menyelamatkan diri. Bujang Sambilan pun menjadi ikan. Letusan Gunung Tinjau itu menyisakan kawah yang sangat luas dan lama-kelamaan berubah menjadi danau. Masyarakat menamakannya Danau Maninjau.

Asal Usul Nama Minangkabau

Tuesday, March 13, 2012 Add Comment


Sumatera Barat dikenal dengan suku Minangkabau. Menurut sumber (Samsuni), salah satu nagari Minangkabau yang berada di wilayah kecamatan Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. 
Dahulu kala, di Sumatera Barat terdapat sebuah kerajaan Pagaruyuang yang dipimpin oleh seorang raha yang adil dan bijaksana sehingga rakyatnya hidup aman, tenang dan damai. Namun ketentraman tersebut terusik oleh adanya kabar penyerangan kerajaan dari Pulau Jawa (menurut sumber Kerajaan tersebut adalah Kerajaan Majapahit).Hal ini membuat Kerajaan Pagaruyuang pun tidak tinggal diam. Raja, petinggi adat dan alim ulama pun berunding. Mereka orang yang bijaksana dan tidak menyukai kekerasan karena akan merugikan dan menyengsarakan rakyat. Sehingga mereka memutuskan untuk tidak melawan dengan kekarasan dan peperangan, namun  mengajak berunding dengan Kerajaan Majapahit.
Mereka mendatangi pasukan Kerajaan Majapahit dan malah menunjukkan sikap yang sopan dan 
menerima Kerajaan tersebut selayaknya tamu terhormat yang datang. Mereka dijamu dengan makanan yang lezat dan sikap yang ramah. Tentu saja hal ini membuat Kerajaan Majapahit menjadi heran, karena mereka mengira akan adanya penyerangan dari Kerajaan Pagaruyuang.

Raja Pagaruyuang menemui Kerajaan Majapahit dan bertanya (pura-pura tidak mengetahui maksud dan kedatangan Kerajaan Majapahit). Kerajaan Majapahit pun menjelaskan maksud kedatangan mereka yaitu untuk menaklukkan Kerajaan Pagaruyung. Kerajaan Pagaruyung menerima dengan baik hal tersebut, namun, Kerajaan Pagaruyung mengusulkan untuk menghindari pertumpahan darah antara kedua pasukan kerajaan, maka diganti dengan adu kerbau. Usulan ini diterima oleh Kerajaan Pagaruyung. Dengan syarat jika kerbau milik Kerajaan Pagaruyung kalah, maka Kerajaan Pagaruyung dikatakan takluk dan jika kerbau milik Kerajaan Majapahit kalah, mereka akan dibiarkan kembali ke Pulau Jawa dengan damai.
Daerah Sumatera Barat adalah daerah pertanian, dan kerbau adalah salah satu hewan 
yang sangat dibutuhkan dalam mengolah lahan pertanian. 

Dalam kesepakatan tersebut tidak ditentukan jenis atau ukuran kerbau yang akan diadu. Pasukan Majapahit memilih kerbau dengan ukuran yang sangat besar, karena menurut mereka lebih kuat dan berani. Sedangkan dari Kerajaan Pagaruyung memilih kerbau yang masih bayi dan menyusu. Hal ini ada alasannya, orang awak yang dikenal dengan orang yang cerdik dan banyak akal. Bayi kerbau tersebut dipisahkan selama beberapa hari dari induknya dan mereka menaruh dua pisau di kepala dekat (sebagai tanduk) anak kerbau tersebut. Hal ini tidak ada larangan dalam perjanjian sebelumnya.

Pertandingan pun dimulai, kerbau Kerajaan Majapahit sangat besar dan kerbau Kerajaan Pagaruyung yang sangat kecil. Suasana di tanah lapang pun ramai. Kerajaan Majapahit meremehkan kerbau ingusan dan kecil, dan yakin akan dapat dikalahkan. Namun apa yang terjadi,ternyata mereka dikejutkan oleh jatuhnya kerbau Majapahit, karena Kerbau Pagaruyung mengejar kerbau besar tersebut. Kerbau Pagaruyuang yang tidak diberi makan dan Asi induknya, menjadi kelaparan dan mengira bahwa kerbau Majapahit adalah induknya.Pisau dikepalanya pun menyayat dan mengenai badan kerbau besar. Karena terkena tusukan beberapa kali, akhirnya kerbau besar pun roboh dan terkapar. Rakyat Pagaruyung pun bersorak-sorak kegirangan, sambil berteriak "Manang kabau...., Manang kabau..."

Akhirnya pasukan Majapahit dinyatakan kalah dalam pertandingan tersebut, dan mereka pun diizinkan untuk kembali ke Majapahit Pulau Jawa. Kemenangan kerbau Pagaruyung pun tersebar keseluruh pelosok negeri. Kata "Menang kabau" yang berarti menang kerbau pun menjadi pembicaraan rakyat dimana-mana, sehingga pengucapannya pun lama-lama berubah menjadi kata "Minang". Sehingga sejak itulah, tempat itu dinamakan Nagari Minangkabau. 

Hal ini juga menjadi acuan bagi rakyat Minangkabau, salah satunya dalam menentukan bentuk atap rumah adat dan baju adat yang menyerupai tanduk kerbau.