Showing posts with label KHAS MINANGKABAU. Show all posts
Showing posts with label KHAS MINANGKABAU. Show all posts

TARI PIRING DARI SUMATERA BARAT

Friday, May 23, 2014 Add Comment

Nah sekarang saya akan ajak Anda ke daerah saya untuk mengenal tari tradisional suku Minangkabau Sumatera Barat. Tari yang pasti Anda sudah kenal yaitu tari piriang atau tari piring.
Tari piring adalah salah satu tari tradisional khas Minangkabau. Dari namanya berarti kita akan melihat penari yang menari dengan menggunakan piring. Biasanya jumlah penari piring adalah berjumlah ganjil yaitu 3 sampai 7 orang. Penari akan membawa piring-piring di tangannya sambil mendentingkan dentingan suara yang ditimbulkan oleh cincin dengan piring. Gerakannya sangat kompak, rapih dan cepat. Bagi yang pertama kali melihat akan mengajak jantung Anda untuk berbanga dan kagum disamping rasa was was kalau piringnya jatuh.

Tari piring berasal dari Solok Sumatera Barat yang pada mulanya merupakan ritual rasa syukur masyarakat Minang atas hasil panen yang berlimpah. Tari ini berlangsung pertama kali sebelum Islam masuk ke ranah Minangkabau, sehingga tarian ini adalah ungkapan sebagai persembahan kepada dewa-dewa melalui gerakan gemulai gadis-gadis cantik yang membawa sesaji berupa makanan yang ditempatkan di dalam piring. Setelah Islam masuk ke ranah Minang, maka makna tari piring adalah sebagai ungkapan persembahan kepada raja-raja atau anggota kerajaan dan juga sebagai hiburan bagi masyarakat banyak yang ditampilkan pada acara-acara keramaian.


Tari piring sebagai salah satu aset terpenting bagi pemerintah Sumatera Barat dan sudah sering mengadakan beberapa festival dalam skala nasional bahkan internasional seperti ke Belanda, Jerman, Singapura, Amerika, Malaysia dan Pakistan serta negara-negara lainnya. Tari piring ini sangat unik, gerakannya meniru gerakan para petani bercocok tanam dan menunjukkan ungkapan rasa syukur saat menuai hasil panen. Gerakan tari piring dengan mengayunkan dua atau tiga piring yang diletakkan di atas tangan-tangan penari dan biasanya terdapat lilin yang menyala di atas pirng tersebut. Lilin tidak akan padam hingga tari selesai.

Kekhasan lainnnya adalah mendentingkan dua cincin di jari-jari penari dengan piring yang dibawanya. Dan pada penghujung tarian, Anda akan melihat penari akan menginjakkan pecahan kaca yang sudah disediakan dan juga pecahan kaca dari hasil lemparan piring-piring yang dibawanya. Dan anehnya tidak ada satupun penari yang terluka, walaupun mereka berloncat-loncat di atas pecahan kaca tersebut. Karena itulah tari piring membuat decak kagum siapapun yang menyaksikannya. Belum tahu persis apa makna dari hal ini, mungkin menunjukkan rasa senang dan gembira atas hasil panen yang diperoleh.
Dalam hal ini dibutuhkan konsentrasi yang penuh dan si penari pun juga harus dalam keadaan bersih. Bersih dalam hal bersih hati, tidak sombong dan tidak sedang haid. Sebelum menginjak pecahan kaca dan menari di atasnya, penari harus berwudu sedangkan pawang harus shalat terlebih dahulu.

Tari piring dikombinasikan dengan musik yang cepat dihasilkan oleh musik talempong, gandang dan saluang. Pakaian penari yang dipilih adalah warna yang mencolok seperti merah atau kuning keemasan, hal ini agar mudah dikenali dan menarik perhatian oleh penonton saat pertunjukkan tari berlangsung.

Adapun berbagai makna gerakan tari piring, yang meniru gerakan bercocok tanam, seperti gerakan mencangkul, mencabut benih, menanam, menyiang, memagar, menyabit padi, mengirik (menjemur) padi, mengambil padi, menganginkan padi, menggampo padi, menumbuk padi dengan alu, gerakan membuang sampah, melepas lelah, mengantar makanan, gerakan pasambahan sebagai rasa syukur kepada Allah SWT dan permintaan maaf kepada penonton yang menyaksikan tari, serta gerakan Singanjua lalai yaitu gerakan melambangkan suasana pagi hari yang memperlihatkan suasana gadis minang yang berjalan, gerakan gotong royong dan gerakan menginjak kaca sebagai gabungan dari beragam gerak tari.

Prosesi tari piring mulai dari persiapan yaitu latihan dan mempersiapkan piring-piring yangtidak ada retak sedikitpun. Saat memulai tarian biasanya diawali dengan bunyi rebana dan gong. Si penari memulai tari piring dengan gerakan pasambahan sebagai tanda hormat kepada penonton, dilanjutkan dengan rangkaian gerakan menanam padi hingga panen dan diakhiri dengan gerakan memecahkan dan menginjak-injak piring. Saat menari, penari juga mengayunkan piring sambil menghasilkan bunyi “ting..ting..ting..” dari bagian bawah piring dan cincin yang dipakai penari. Dan mengakhiri tarian dengan sembah penutup sebagai bentuk ucapan syukur dan rasa terima kasih kepada penonton.

Inti dari tari piring ini memberika pesan-pesan positif seperti kegembiraan, kebersamaan, gotong-royong, kesejahteraan, dan kemakmuran.

Begitu indahnya dan sangat luar biasa jika anda menonton secara langsung tari piring ini. Anda pasti akan berdecak kagum apalagi saat penari menginjakkan bahkan meloncat-loncat di atas pecahan kaca. Inilah salah satu aset terpenting bagi kebudayaan Minangkabau Sumatera Barat.
Saya menulis mengenai tari ini, karena saat saya menghadiri pesta perkawinan, kami dihibur dengan tarian ini. Saya sangat kagum saat melihat langsung tari piring tersebut sehingga saya cari tahu informasi mengenai tari piring ini. Dan lebih kagumnya lagi, sanggar tari ini sudah sering diundang keluar negeri sambil mempromosikan tari piring sebagai bagian dari kebudayaan kita Indonesia.

Anda bisa nonton tari piring pada video berikut ini. Pada adegan terakhir terdapat dua pemuda yang bermain api ke tubuhnya, hal ini hanyalah sebuah tambahan hiburan dan inti dari tari adalah pada tari piring. Silahkan klik link ini : Tari Piring dari Group Gastarana 


by MEYF 
^_^


THE TOURIST PLACE IN BUKITTINGGI

Wednesday, April 09, 2014 Add Comment

Now I invite you to know my lovely hometown Bukittinggi. Indonesia has 34 provinces and there are five big islands: Sumatera, Kalimantan, Java, Sulawesi and Irian (Papua).  In the west side is Sumatera Island and here is my province, West Sumatera. Padang is capital city of west Sumatera. This island is around by hills, mountain and valley. More forest growth on this island. All citizens are moslem in here and we are called as Minang people. Padang and Bukittinggi were distance about 89,7 km. We will face more beautiful view in the journey. Hiils, waterfall, valley and forest and sometime monkey hang on around there. It needs about two into three hours from Padang to Bukittinggi. 

Bukittinggi is known as twin city with Seremban city, Malaysia. There are more Minang people also because Minang people prefer to migrate to another province for challenge their life.  Bung Hatta was Indonesian first vice-president was born in Bukittinggi. In June 1948 until December 1949, Bukittinggi was designated as the capital of the emergency government of the Republic of Indonesia after Yogyakarta fell into Dutch.  

Bukittinggi is well known as tourist town and more tourist from other country come here to visit my lovely hometown. Let me introduce the tourist town in Bukittinggi :

1. Jam Gadang

It is known as zero point of Bukittinggi city, the central of Bukittinggi. It was built at 1926 by Yazid Sutan Gigi Ameh. Jam Gadang is a clock tower with a height of 26 m and a baseline measure approximately 13 m x4 m. It has four clocks with diameter 80 cm for each clock, and clock are located at the top of the tower. The clocks were imported directly from Rotterdam, Netherlands when Dutch colonialism in Indonesia and the engine is mechanically, it was produced by the engine that was made only two units in the world, it were namely the Jam Gadang and Big Ben in London, England. The legend said that the cost to build it is about 3000 Gulden.  The top of Jam Gadang, first time it looks like circle and there is a statue of a rooster. When Japan occupied Bukittinggi, they changed into a temple top. After independence, it changed in to form of top Minangkabau house (Rumah Gadang).

(for more information, pleae visit Jam Gadang)

2. Kebun Binatang Kinantan dan Taman Bundo Kanduang 

Near from Jam Gadang, we can visit Kebun Binatang Kinantan and Taman Bundo Kanduang. Kebun Binatag Kinantan is zoo that has more save animals live here, such as camel and elephants from middle east country, monkeys, apes, gorillas, tiger, lions, snakes, birds, etc. Taman Bundo Kanduang is beautiful garden, in the middle is traditional house of Minangkabau, Rumah Gadang. Cost for building this place was about 800 Gulden in Dutch Colonial.

3. Fort De Kock
The first time it was called as Stherrescant fortress. This fortress was built by Dutch colonial in 1825 while it was Paderi war in Minangkabau. It has 20 m height and four small cannon for warfare at each corner. It is white building and now this place for tourist specially, more sport game such as flying fox and trampoline for outbound. This place is so green with grass and it has fresh and cool weather.  




4. Jembatan Limpapeh
This is a bridge that is connecting the Kinantan Zoo and Fort de Kock. This bridge is above of Ahmad Yani Street and Kampung China (a small town are almost people live here are Chinese). In the middle of  bridge is a building like Minangkabau traditional house.




5. Lobang Jepang
This is a relic of history from Japan colony. It was built in 1942 useful for Japan defense in Second World War. It has 1,4 km hole length and 2 m hole width. It is so dark, but when you want to enter here,  you will give lamps or flashlight. At there more room, torture room, weapons room, and room for cooking. It has more gateway that spread in Bukittinggi city, such as in Taman Panorama, Ngarai Sianok and Tria Arga (Bung Hatta palace).


6. Taman Panorama
It is a garden with beautiful panorama. It location is at Panorama Street and near from Jam Gadang as well. We can see Sianok Canon and river from here. This place is connecting with Lobang Jepang. In front of Panorama we can visit Tri Daya Ekadarma Museum.





7. Tri Daya Ekadarma Museum
It is a museum that shows equipment of war and photos of our hero while against colony. In front of building we can see a plane statue. It location is Panorama Street in front of PDAM office.





8. Istana Bung Hatta (Tri Arga)
It is the Bung Hatta palace, but it is not like palace, we just call it as palace. More event or celebration are held here, such as traditional dance, Saluang, and more traditional art of Minangkabau.





9. Bung Hatta House Birth
It is a home birth of Bung Hatta our first vice-president. It is near from traditional market in Bukittingi. In the room we can find more historical heritage about Bung Hatta, photos, hansom, room, and many more classic equipment. 





10. Janjang Ampek Puluah
It is  a stage that has 40 steps so that why its name is Janjang Ampek Puluah means forty stage. This stage is connecting between traditional market (Pasar Bawah) and tourist market (Pasar Atas).  Along the way of stage, we can find more beautiful painting and souvenir.







11. Ngarai Sianok
Its is a tourist place in central of Bukittinggi city. The beautiful view and river here. It is a canyon that has 200 m width and 15 km length and 100 m hight. Around of canyon are high edge and near from here we can visit Janjang Saribu.




12. Janjang Saribu
It is stage that has almost thousand step so that why its name is Janjang Saribu it means thousand stages. This is natural place and we can see monkeys hang on around here. The first time this place used for people around here to bring water from river. And, now this place is suitable for camping.


13. Pasar Atas and Pasar Bawah
This is famous market in Bukittinggi. The Pasar Atas mean The Above Market, because it location are above than Pasar Bawah. This market sells more things such as clothes, shoes,  and beautiful traditional Minangkabau souvenir. We can see Jam Gadan from here. And, Pasar Bawah means The Below Market. And, Pasar Bawah is traditional market for daily needs. Besides Janjang Ampek Puluah, there are Pasar Lereng to connecting Pasar Bawah and Pasar Atas. 

14. Pasar Aur Kuning.
This is a market and big grocery in Bukittinggi. More tourist come here to buy clothes, shoes and other souvenir.

15. Puncak Lawang.
It is a top of Bukittinggi. People said that this place is the highest place. We can see beautiful view and if we look in below, we can see Maninjau lake. Here is more outbound game like flying fox and trampoline. This place is suit for camping. This location is about 28 km and it needs 30-50 minute from Bukittinggi. More plants growth here. And, we can feel fresh and cool air.

16. The Great Wall of Koto Gadang.
It location is near in Ngarai Sianok and Janjang Saribu. It imitate a great wall of China. It was built on 2013. We can see beautiful view from here, Ngarai Sianok and Janjang Saribu. 



17. Bukit Takuruang 

It means like a caged hill because it only one hill in the middle and there are trees on top. There are caferesto and cottages with beautiful and natural view.

That some of tourist place in my hometown. And, if you want to visit and enjoy this place you need a week to stay here. And next time I ll share about tourist place in other city in my province.

Air Terjun Lembah Anai

Sunday, March 31, 2013 1 Comment


Sumatera Barat dikelilingi oleh bukit-bukit, gunung-gunung, lembah-lembah, danau-danau dan air terjun. Salah satu air terjun yang mudah ditemui adalah air terjun Lembah Anai yang berada di kawasan Lembah Anai. Terdapat tiga air terjun dan satu telaga yang airnya berwarna kebiru-biruan. Salah satu air terjun terletak di pinggir jalan yaitu air terjun Lembah Anai dan dua lainnya tertutup oleh lebatnya hutan. Keindahan telaga dan dua air terjun lainnya dapat ditempuh sekitar 15 menit dari lokasi air terjun Lembah Anai.

Air Terjun Lembah Anai berlokasi di pinggir jalan raya Padang-Bukittinggi, yaitu kecamatan Sepuluh koto Kabupaten Tanah Datar. Sumber airnya dari gunung Singgalang yang airnya sangat jernih mengalir menyusuri  perbukitan dan lereng lalu mengalir melewati cagar alam sebelum sampai ke tebing yang memiliki ketinggian 50 m dan membentuk kawah tempat air berkumpul. Air terjun yang satu ini terletak dipinggir jalan raya, sehingga jika kita melewati jalur Bukittinggi – Padang akan melewati air terjun ini. Air terjun yang berkabut dan membentuk gugusan yang berwarna-warni jika disinari matahari.

Lembah Anai merupakan kawasan cagar alam dan terkenal dengan air. Cagar alam Lembah Anai terdapat beberapa tanaman langka salah satunya bunga bangkai (amorphyphalus titanium) yang tumbuh subur di tengah hutan. Selain itu terdapat beberapa tanaman kayu. Disamping itu terdapat hewan langka yang hamper punah seperti harimau sumatera, rusa, siamang, kera ekor panjang, beruk, trenggiling, kancil, tapir dan biawak.  Hewan yang sering dijumpai di sepanjang jalan menuju Lembah Anai adalah kera ekor panjang, siamang dan beruk yang selalu ,mencari makanan di sepanjang jalan raya.

Untuk memasuki cagar alam, dibutuhkan tenaga pendamping yang dapat mengantarkan pengunjung langsung ke tempat hewan-hewan biasa main dan mencari makan. Akses ke air terjun lembah anai sangat mudah ditemukan, karena lokasinya yang berada di pinggir jalan raya. Jika perjalanan dimulai dari Bandara Internasional Minang Kabau, hanya memerlukan waktu tidak lebih dari 1,5 jam.

JAM GADANG BUKITTINGGI (CLOCK TOWER / BIG CLOCK)

Friday, March 29, 2013 1 Comment



Jam Gadang at the night
Jam Gadang
Bukittinggi is known as a tourist city in West Sumatera. It is known as the twin of Negeri Sembilan Malaysia. One of the tourist object attractions is the Jam Gadang (Clock Tower) in Bukittinggi. Jam Gadang mean big clock, it is located in the center of Bukittinggi, it is called Pasa Ateh (Pasar Atas). 

inside of Jam Gadang
Jam Gadang is a clock tower with a height of 26 meters and a baseline measure approximately 13 x 4 m2. It have four clock with diameter 80 cm for each clock, and clock are located at the top of the tower. The clocks were imported directly from Rotterdam, Netherlands, when Dutch colonialism in Indonesia and the engine is mechanically, it was produced by the engine that were made only two units in the world, it were namely the Jam Gadang and Big Ben in London, England.

pendulum/bell
Clock Of Jam Gadang
Jam Gadang consist of several level and there is a pendulum in the top level. When the earthquake in 2007, the pendulum is broken and had to repair. At the bell, there manufacture’s written, Vortmann Relinghausen. Vortman is a watchmaker that Bernard Vortman and Recklinghausen is a city in Germany that manufactures engine hours in 1982. There are unique from the clock tower which is a mix of materials makes the tower without iron or cement, but only a mixture of lime, egg white and white sand. And then  occurrence of an error writing Roman numerals at the number IV written be IIII..

Jam Gadang was built in 1926 as a gift from the Queen of the Netherlands to Rook Maker secretary Fort De Cock in the reign of the Dutch East Indies. Jam Gadang was designed by Yazin Sutan Gigi Ameh and laying of the first stone by Rook Maker's first son who was 6 years old. Jam Gadang as a marker and the zero point of Bukittinggi. Shape of Jam Gadang’s roof has changed three times as well, the first time occupation of the Dutch East Indies government, shape of roof is round with rooster statue faces east on it. Then when the Japanese occupation was changed to a temple and last after Indonesia's independence, shape of roof was changed to a gonjong or to house’s roof in traditional Minangkabau.
The Occupational of Dutch Government
The Occupational of Japanese Government
Clock Tower is now used as a tourist attraction and has a surrounding parks include clowns who entertain visitors around the Clock Tower. Usually the public event are organized around the park near the tower. If visitors want to go to the top of the tower should pay some of money, and from above we would look beautiful town of Bukittinggi, panoramas and canyons Sianok.

JAM GADANG BUKITTINGGI

Friday, March 29, 2013 Add Comment

Jam Gadang Malam Hari
Jam Gadang Siang Hari
Bukittinggi dikenal sebagai kota wisata di Sumatera Barat dan juga kembaran dari Negeri Sembilan Malaysia. Salah satu objek wisata di Bukittinggi adalah Jam Gadang (Jam besar). Jam Gadang terletak di pusat kota Bukittinggi yaitu Pasa Ateh (Pasar Atas) Bukittinggi. Jam Gadang merupakan menara jam dengan tinggi 26 meter dan ukuran dasar sekitar 13 x 4 m2. Memiliki empat jam dengan diameter masing-masing 80 cm di bagian paling atas menara. Jam tersebut didatangkan langsung dari Rotterdam, Belanda. Jam Gadang digerakkan secara mekanik oleh mesin yang hanya dibuat dua unit di dunia yaitu Jam Gadang dan Big Ben di London Inggris.

Lonceng / Bandul Jam Gadang
Jam Gadang terdiri dari beberapa tingkat dan paling atas sebagai tempat penyimpanan bandul. Saat gempa di tahun 2007, bandul tersebut patah dan harus diganti. Pada bagian Lonceng tertulis pabrik pembuat jam yaitu Vortmann Relinghausen. Vortman adalah nama pembuat jam yaitu Benhard Vortman dan Recklinghausen adalah nama kota di Jerman yang memproduksi mesin jam di tahun 1982. 



Angka IIII pada Jam Gadang

Ada keunikan dari Jam Gadang yaitu bahan membuat menara tanpa campuran besi atau pun semen, namun hanya campuran kapur, putih telur dan pasir Putih. Tulisan angka pada jam terdapat kesalahan yaitu angka Romawi IV ditulis IIII.

Dalam Jam Gadang
Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 sebagai hadiah Ratu Belanda kepada Rook Maker sekretaris Fort De Cock pada masa pemerintahan Hindia-Belanda. Jam Gadang di rancang oleh Yazin Sutan Gigi Ameh dan peletakan batu pertama oleh putra pertama Rook Maker yang masih berusia 6 tahun. Jam Gadang sebagai penanda dan titik nol kota Bukittinggi. 



Bentuk Jam Gadang memiliki tiga kali perubahan pada atapnya, pertama saat pendudukan pemerintahan Hindia-Belanda atapnya berbentuk bulat dengan patung ayam jantan menghadap ke arah timur di atasnya. Kemudian saat pendudukan Jepang diubah menjadi bentuk klenteng dan terakhir setelah Indonesia merdeka diubah menjadi bentuk gonjong atau atap pada rumah adat tradisional Minangkabau.

Atap Bulat Zaman Pendudukan Belanda
Atap Klenteng Zaman pendudukan Jepang
Sekarang Jam Gadang dijadikan sebagai objek wisata dan memiliki taman di sekitarnya yang dilengkapi oleh badut-badut yang menghibur pengunjung sekitar Jam Gadang. Biasanya acara-acara bersifat umum diselenggarakan di sekitar taman dekat menara jam ini. Jika pengunjung ingin menaiki puncak Jam Gadang harus membayarkan sejumlah uang, dan dari atas akan terlihat keindahan kota Bukittinggi, panorama dan ngarai Sianok.